Kisah Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib

Sekelompok penentang Ali bin Thalib tidak menyukai pujian pada Ali bahwa ia orang yang berilmu. (Pujian itu datang dari Nabi Muhammad SAW.) Mereka ingin menguji apakah benar Ali memang berpengetahuan luas. Mereka sepakat untuk melakukannya dengan cara mengirim orang-orang mereka satu persatu untuk menanyakan hal yang sama. Mereka ingin tahu apakah  jawaban Ali akan bervariasi sebelum mengakui bahwa Ali orang yang berilmu.

Orang pertama datang ke Ali dan bertanya: “Ali, manakah yang  lebih utama, ilmu atau harta?” Ali menjawab: “Tentu ilmu.” “Mengapa?” “Ilmu itu warisan para Nabi, sedangkan harta warisan Qorun, Syaddad, Fir’aun dan sebagainya.” Mendengar itu, orang itu pun pergi.

Orang kedua datang dengan pertanyaan yang sama: “Mana yang lebih utama, ilmu atau harta?” “Ilmu.” “Mengapa?” “Ilmu itu menjagamu, tetapi harta? Engkaulah yang menjaganya.”

Orang ketiga datang menanyakan hal yang sama.  Jawaban Ali tetap ilmu dengan menyebut alasan “Pemilik harta punya banyak musuh, sedangkan pemilik ilmu punya teman.”

Pertanyaan dari orang keempat tetap dijawab Ali bahwa ilmu lebih utama dengan alasan “Jika kau pergunakan hartamu, maka harta itu menyusut. Jika engkau pergunakan ilmumu, maka ilmumu bertambah.”

Jawaban Ali untuk orang kelima adalah “Akan ada orang yang menyebut orang yang berharta sebagai orang yang pelit dan rakus, sedangkan untuk orang yang berilmu disebut mulia dan terhormat.”

“Harta selalu dijaga dari pencuri, sementara ilmu tidak perlu dijaga” itulah jawaban untuk orang keenam.

Ali berkata “Pemilik harta akan dihisab (dihitung perbuatannya) di hari Qiamat, sedangkan pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan)” untuk orang ketujuh.

Ketika orang ke delapan datang dan menanyakan hal yang sama, maka dijawab Ali: “Dalam kurun waktu yang lama, harta  akan musnah jika dibiarkan. Tetapi ilmu itu tidak, ia abadi.”

Orang kesembilan mendapatkan jawaban: “Harta itu mengeraskan hati, sedangkan ilmu menyinari hati.”

Orang kesepuluh datang dan ia memperoleh jawaban Ali sebagai berikut: “Orang yang memiliki  harta mengagung-agungkan diri berdasarkan hartanya, sementara orang yang memiliki  ilmu mendekatkan dirinya pada Tuhan. Seandainya kalian datangkan semua orang untuk menanyakan hal  yang sama, maka akan saya jawab secara berbeda.”

(Dari kitab al-Mawaa’izh al-Ushfuuriyyah yang disadur oleh M. Syaiful Bakhri dan M. Irham Zuhdi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s