Al-Qur’an Jawab Keraguan Saya

John Matulessy: "Alquran Jawab Keraguan Saya"

"Saya sempat menangis mendengar adzan dhuhur ketika saya terserang bronchitis berat. Keesokan harinya saya merasa segar, seolah ada kekuatan yang membangunkan saya dari sakit. Bahkan, dokter pun menyatakan saya sembuh dari penyakit itu"

SAYA terlahir dari keluarga non-Muslim dengan nama Johan Yoseph Samuel Matulessy, di Tual, Maluku Tenggara 11 Desember, 54 tahun yang lalu. Awal perkenalan saya dengan Islam terjadi ketika saya ditugaskan di Saudi Arabia oleh perusahaan tempat saya bekerja, tahun 1977 sampai 1980. Setiap hari saya menyaksikan orang begitu taat manjalankan agamanya. Supir taksi yang sedang mencari nafkah, serta merta menghentikan aktifitasnya begitu mendengar adzan.

Suatu hari saya dan rekan-rekan sekantor pergi dalam satu mobil. Waktu itu purnama menjelang, sehingga tampak relief padang pasir ditimpa temaram sinar bulan, indah sekali. Keindahan itu semakin menyentuh hati saya karena menyaksikan ketaatan rekan-rekan saya yang
menghentikan perjalanan untuk melaksanakan shalat Isya'. Saya kembali penasaran dengan ketaatan mereka. Saya pun bertanya untuk siapa mereka shhlat. Mereka menjawab "Untuk Allah."

Saya kembali bertanya "Allah yang mana?"
"Allah yang menciptkan langit dan bumi,"jawab mereka.

Saya belum puas, karena kami sama-sama orang Indonesia. Kemudian saya bertanya pada rekan kerja saya yang berasal dari Somalia. Saya pikir, saya akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari jawaban rekan-rekan saya. Tapi, ternyata jawabannya tidak jauh berbeda, dan darinya saya mendapat penjelasan tentang betapa lengkap Islam mengatur segala urusan hingga urusan paling kecil, seperti buang air. Darinya juga saya mengetahui bahwa Islam mengatur dua urusan besar, yang kemudian saya ketahui sebagai hablumminallah dan hablumminannaas.

Suatu hari sepulang dari kantor, saya mendengar suara adzan yang biasanya menjadi barang tabu untuk saya dengarkan. Tapi, saat itu, entah kenapa tiba-tiba saya menangis. Bahkan, yang lebih mengena adalah ketika saya mendengar adzan dhuhur, saat saya terbaring lemah
karena bronchitis berat. Kejadian ini saya alami pada tahun 1979.

Saya pun minta pada Tuhan, "Kalau memang ini saatnya Kau mengubahku, ubahlah aku." Keesokan harinya saya merasa segar, seolah ada kekuatan yang membangunkan saya dari sakit yang saya derita. Tanpa saya duga, saya dinyatakan sembuh oleh dokter. Dokter pun heran dengan
kesembuhan yang sedemikian cepat.
Peristiwa itu sebenarnya cukup membekas. Tapi, ia seolah berlalu begitu saja sekembalinya saya ke tanah air tahun 1980. Bahkan, lima tahun kemudian saya resmi menjadi penyebar agama non-Islam.

Meski demikian, saya pun tetap membawa kebingungan sendiri tentang siapakah Tuhan yang sebenarnya. Saya pun baru menemukan semua jawabannya ketika mempelajari Alquran, meskipun dengan sembunyi-sembunyi. Karena itu, saya pun mulai meninggalkan profesi saya sebagai pemuka agama yang saya anut.
Dalam suasana masih penuh bimbang, Allah mempertemukan saya dengan seorang petani sederhana asal Garut bernama Mang Ondit, di rumah makan Ampera Kebon Kalapa. Di rumahnyalah saya menyatakan syahadat sebagai seorang Muslim untuk kali pertama.

Konsekuensinya, saya pun harus berpisah dengan keluarga. Tapi, semuanya saya serahkan pada Allah. Saya yakin, Allah adalah yang paling berhak memberi hidayah. Kalau Dia menghendaki isteri saya dapat hidayah, itu bukan hal sulit bagiNya.

Saya merasa, saya memiliki Allah sebagai supporter saya. Allah-lah yang bisa kuatkan saya. Saya tak tahu, apa jadinya saya kalau tidak ada Allah. Waktu awal keislaman saya, kalau mau shalat Jumat, saya masih sembunyi-sembunyi. Sekarang, saya ingin semua orang tahu kalau
saya ini Muslim. Hasilnya, akhir Juli 2003 lalu, dua orang anak saya dari isteri pertama masuk Islam tanpa saya ajak.

Alhamdulillah, sejak masuk Islam, menurut orang-orang yang mengenal saya, banyak perubahan yang terjadi pada diri saya. Dulu, saya orang yang arogan, tidak mau mendengarkan orang lain. Tapi, setelah menjadi Muslim, saya bisa lebih tenang dan sabar serta mau mendengarkan orang lain. Misalnya, saya bisa tenang dalam kondisi krisis seperti sekarang ini. Sya tidak pernah ragu dengan rezeki yang Allah berikan.
Kita bagaikan layang-layang, dan Allah pemilik layang-layang itu. Alangkah sayangnya kalau tali yang menghubungkan kita dengan Allah terputus. Alquran dan sunnah Rasul adalah tali penghubungnya. Kini, yang ingin saya lakukan adalah menjadi pengquran, memanfaatkan hidup
yang diberikan Allah untuk menyampaikan firman-Nya. seperti dikisahkan pada
Ophie'/MQ

Comments
  1. RISDI says:

    IZIN SHARE YA MAS?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s