Dan Matahari Madinah Pun Tersenyum

Subhaanallaah….Kisah Teladan yang bagus banget…..

Maaf bagi yang sudah pernah membacanya…

Kiriman dari seorang kawan…

Matahari Madinah Pun Tersenyum

Malam Madinah yang hening syahdu, tiba-tiba pecah. Suara pertengkaran itu membuat pintu-pintu dan jendela terbuka. Wajah penduduk kota pun bermunculan. Ada apa gerangan?

“Sampai hati engkau ya menuduhku, ya Syaikh. Engkau menuduhku memasuki rumah orang? Padahal rumah itu rumahku. Akulah Al-Faruq. Al-Faruq wali bagi keluarga AL-Munkadir yang berasal dari cucu-cicit kaum Quraisy!” Dengan matanya yang tajam orangtua yang dituduh hendak memasuki rumah Rabi’ah itu mengajukan pembelaannya di depan Imam Malik.

Benarkah ia Al-Faruq? Semua ragu. Mereka tidak pernah mengenali rupa Al-Faruq sejak 20 tahun yang lalu. Inikah Al-Faruq yang tidak ada khabarnya itu?

Ibu Rabi’ah yang berada di dalam rumah tersentak. Hatinya berdebar hebat.

“Benar! Ia Al-Faruq…!” Ujar ibu Rabi’ah pelan. Semua menoleh pada dirinya.

“Benar, ia suamiku. Dialah ayahmu, hai Rabi’ah.” Semua terdiam, mencoba memahaminya. Lebih-lebih Rabi’ah. Ia mengalami gelombang perasaan yang begitu tiba-tiba.

“Rabiah itu anakmu, wahai Al-Faruq..,” wanita itu kini menatap syahdu ke lelaki tua yang begitu terpana melihat penampilannya.

Semua yang hadir satu persatu beranjak pergi. Satu per satu pintu-pintu dan jendela tertutup lagi. Semua kembali senyap. Kecuali deru dalam dada Rabi’ah. Lelaki tua itu, dan sang wanita, ibu Rabi’ah. Mereka pun bertangis-tangisan dalam pelukan haru-rindu yang menggebu-gebu.

Setelah tenang kembali ketiganya masuk ke dalam rumah. Masih tanpa kata-kata. Dalam benak sang ibu, terputar semua kilasan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Ketika masih pengantin baru, suaminya pergi menuju medan jihad, ke Khurasan dan Bukhara.

Dua puluh tahun sudah tidak ada kabar, sementara benih dalam perutnya kini sudah menjelma menjadi pemuda dewasa. Di tengah suara-suara pertanyaan anaknya dan cerita suaminya, ia mulai diliputi rasa bersalah. Suaminya pasti menanyakan uang yang dititipkan dahulu. Tiga puluh ribu dinar. Angka yang tidak tersisa sedikitpun ditangannya!

Sang anak ingin tahu alasan ayahnya tidak pulang dalam waktu yang begitu lama.

“Ibu hanya mengatakan, andai maut menghadangmu di medan perang, apakah engkau akan lari pulang tunggang-langgang seperti seekor anjing berlari ulang karena takut pada lawan?”

“Mengapa ibu menuntut Ayah begitu keras?”

“Ibu hanya mengingatkan ayahmu, sebagaimana yang telah dilakukan isteri-isteri para sahabat terhadap suami-suami mereka. Saat kembali dari pedang Mut’ah, mereka mengunci pintu dan jendela sambil melontarkan kata, “Pergi kau pengecut! Kembali ke medan perang!!”

Malam bertambah larut. Ibu Rabi’ah belum memincingkan mata. Ia belum mendapat jawaban yang tepat jika sang suami bertanya mana uang yang dititipkannya dulu. Uang yang tak mungkin habis jika digunakan hanya untuk hidup berdua dengan hemat.

Adzan Subuh berkumandang dari mesjid Nabawi. Ia bangkit. Anaknya sudah lebih dahulu pergi ke masjid. Al Faruq juga telah bersiap-siap. Tapi ada hal yang mengganjal langkahnya untuk bersegera ke masjid.

“Wahai Ummu Rabi’ah, apa yang telah kamu lakukan dengan uang yang  kutinggalkan dulu sebelum berjihad. Jika ada sisanya, aku ingin menjadikannya modal usaha.”

Kalimat yang biasa saja, tapi terasa menusuk perasaan Ummu Rabi’ah. Dengan cepat ia berusaha mengendalikan diri.

“Uang itu masih tersimpan,” Ummu Rabi’ah berusaha menghindar lagi. Ia merasa ini bukan waktu yang tepat.

“Lekaslah ke masjid. Bukankah kamu telah lama sekali tidak shalat di mesjid Nabi? Tidakkah kamu rindu melakukannya?”

Al-Faruq tidak membantah. Ia bergegas menuju masjid. Sementara Ummu Rabi’ah resah. “Ya Allah, permudahlah urusanku ini. Berilah petunjukMu…,” doanya penuh harap.

Di masjid, Al-Faruq dapat barisan di belakang. Setelah shalat, dibukalah majelis taklim. Lamat-lamat didengarnya suara sang guru. Masih muda. Dilongoknya untuk memastikannya. Benar, walau wajahnya susah dikenali karena tertutup jubahnya. Ah, kalau saja Rabi’ah, anaknya seperti anak muda itu betapa tenteram hidupnya. Ada anak shalih yang senantiasa mendoakannya.

Cukup bagiku anak yang shalih tanpa diberi harta sekalipun, ditorehnya  kalimat ini dalam relung-relung hatinya yang paling dalam. Ya, andaikan Rabi’ah…..

Diamatinya sekeliling. Yang hadir tampaknya bukan hanya masyarakat awam. Tapi juga para ulama dan cerdik pandai lainnya.

Ketika selesai, Al-Faruq tinggal sendiri, meresapi rasa rindu dengan masjid suci ini. Siapakah ulama yang mengajar tadi?

“Bapak belum kenal siapa guru tadi?” ujar seorang jama’ah menguak takbir keingintahuan Al-Faruq.

“Orang itu menjelaskan bahwa sang guru seorang yang alim dan cerdas dalam bidang hadits. Dia juga orang yang arif di bidang hukum syari’ah. Ia sempat berguru pada beberapa shahabat Rosulullah saw. Dan ia adalah mufti Madinah.”

Lelaki itu mengajak Al-Faruq duduk di sudut tepi masjid Nabawi.

“Sungguh guru kita seorang pemuda yang alim dan dihormati masyarakat. Imam Malikpun salah seorang muridnya. Apakah bapak tahu, ia lelaki yang sangat pemurah di Madinah ini? Ia menghabiskan banyak uang sampai 40.000 dirham untuk dihadiahkan kepada guru-gurunya dengan tujuan mereka mencurahkan segenap waktu untuk memberi ilmu kepadanya. Ia pernah berkata, ‘Harta yang habis bisa di cari, tapi guru-guru yang telah tiada siapakah penggantinya?'”

“Sungguh bahagia orang pandai itu!” cetus kagum Al-Faruq. “Siapakah namanya?”

“Dialah Rabi’ah A-Rayi bin Abu Abdurrahman. Tapi, bapaknya lebih dikenal dengan nama Al-Faruq. Dia masih berada di perbatasan Khurasan. Mungkin bapak pernah mendengar nama itu?”

Matanya berkaca-kaca tidak mampu lagi menahan gelombang batin seorang ayah yang bangga dengan anak lelakinya. Ia bergegas pergi, meninggalkan kawan bicaranya masih terheran-heran.

Setibanya di rumah.

Al-Faruq menyandarkan punggungnya di muka pintu, menetralisir gejolak hatinya. Menarik nafas sebentar agar lebih tenang.

“Kau berhasil, wahai isteriku. Kita telah mendapatkan sesuatu yang paling berharga di muka bumi ini!” ceritanya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Apa yang kamu maksudkan, wahai suamiku?”

“Kita telah punya anak yang shalih, anak yang akan mendoakan kita nanti bila kita menghembuskan nafas. Aku melihat anak kita sangat baik, bertakwa, dan memiliki ilmu luas. Sungguh Allah swt. telah mengangkat derajatnya lebih tinggi daripada yang kuduga.” Ucapnya berapi-api.

Ini peluang yang ditunggu-tunggu Ummu Rabi’ah. Dan ia memberanikan diri untuk berterus terang.

“Suamiku, manakah yang lebih engkau sayangi, uang tiga puluh ribu dinar atau anak kita yang kau ceritakan tadi?” “Demi Allah! Apalah artinya uang itu. Anak shalih lebih menyejukkan mataku!” jawabnya tegas.

“Suamiku, sebenarnya yang kau tinggalkan dulu telah habis kugunakan untuk membiayai anak kita belajar..” Ditatapnya sang suami dengan sinar mata menunggu. Tatapan siap menerima akibat seburuk sekalipun.

“Demi Allah, engkau sungguh wanita yang bijak, duhai isteriku. Engkau seorang ibu sejati. Tidak salah aku memilihmu…” Dengan mesra digenggamnya jemari sang isteri seolah ingin memberi tekanan kesungguhan perkataannya.

Matahari Madinah pun tersenyum menyaksikan dua insan bahagia itu.  Sinarnya

terasa lebih cerah menerpa bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s